04 PANGGUNG SEUMUR JAGUNG SENI BUDAYA DAN MEDIA PROPAGANDA.PDF
Download (46MB) | Preview
Abstract
Masa pendudukan Jepang memberi pengalaman kreatif agak berbeda bagi seniman dan budayawan Indonesia. Mereka mendapat peluang yang agak luas untuk berkreasi dan berekspresi sehingga berkembang karya-karya sastra, sandiwara, film, dan lain-lain. Selain seniman dan budayawan lama dari zaman kolonial Belanda, tampil kelompok "baru" seperti Usmar Ismail, Sanusi Pane, Agus Djajasuminta-untuk menyebut beberapa nama. Pembentukan Keimin Bunka Shidosho atau Pusat Kebudayaan seperti "menjamin" bahwa para seniman Indonesia dapat terus berkarya meskipun pemimpin lembaga itu tetap berada di tangan orang Jepang. Sistem pendidikan pada masa pendudukan militer Jepang menghapus sekat-sekat sosial sehingga semua kalangan masyarakat bisa bersekolah tanpa melihat kelas sosialnya. Aspek seni-budaya masuk dalam kurikulum sekolah dengan menonjolkan kebudayaan Jepang seperti senam taisho, baris-berbaris, pengenalan pakaian kimono dan pelajaran merangkai bunga atau ikebana. Dengan demikian rakyat Indonesia diharapkan mengenal lebih mendalam kebudayaan Jepang. Meskipun semua kebijakan itu untuk kepentingan propaganda dan kebutuhan perang, banyak peluang dan pengalaman berharga dimanfaatkan masyarakat Indonesia.
| Item Type: | Book |
|---|---|
| Subjects: | Pendidikan > Kebudayaan Pendidikan > Kebudayaan > Sejarah Indonesia |
| Divisions: | Sekretariat Jenderal Kementerian Kebudayaan |
| Depositing User: | Administrator Repositori Kemenbud |
| Date Deposited: | 14 Apr 2026 04:59 |
| Last Modified: | 14 Apr 2026 04:59 |
| URI: | https://repositori.kemenbud.go.id/id/eprint/4436 |
