Kota pelabuhan Semarang dalam kuasa kolonial: implikasi sosial budaya kebijakan maritim tahun 1800an - 1940an

Book
Nurhajarini, Dwi Ratna, Fibiona, Indra and Suwarno, Suwarno (2019) Kota pelabuhan Semarang dalam kuasa kolonial: implikasi sosial budaya kebijakan maritim tahun 1800an - 1940an. Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Daerah Istimewa Yogyakarta, Yogyakarta. ISBN 9789798971990

[thumbnail of Buku ini menjelaskan tentang pengembangan Kota Pelabuhan Semarang masa kolonial, kondisi geografis dan Ekologis]
Preview
Text (Buku ini menjelaskan tentang pengembangan Kota Pelabuhan Semarang masa kolonial, kondisi geografis dan Ekologis)
KOTA PELABUHAN SEMARANG DALAM KUASA KOLONIAL.pdf

Download (43MB) | Preview

Abstract

Semarang merupakan kota pelabuhan yang berkembang terutama abad XVIII, setelah dikuasai Belanda. Seiring dengan berialannya waktu, Semarang menjadi pelabuhan vital terbesar ke-2 pada medio abad Ke-3 pada abad XX. Hal ini menyebabkan kota pelabuhan Semarang berrkembang dan memiliki populasi yang padat. Pemerintah kolonial melakukan penataan kota pelabuhan Semarang yang melibatkan banyak tangan, terutama dari pihak kolonial, pribumi (Jawa) serta etnis lainya. Sudah barang tentu, heterogenitas masyarakat di sekitar pelabuhan juga menjadi pemerintah kolonial dalam mengimplementasikan pengembangan kota pelabuhan. Kondisi tersebut juga berpengaruh pada aspek kehidupan sosial masyarakat di kota pelabuhan Semarang. Hal tersebut diulas mendalam menggunakan metode sejarah, sehingga penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menjelaskan hubungan sebab-akibat. Kuasa pemerintah kolonial memunculkan kebijakan terkait pengembangan pelabuhan kemudian menjadikan Semarang sebagai kota pelabuhan dengan penduduk yang heterogen dan padat. Oleh karena itu, heterogenitas dan kepadatan penduduk berimplikasi pada perubahan tata kota dan kehidupan sosial budaya, karena singgungan lintas etnis. Muncul patologi sosial terkait perdagangan manusia, penyelundup senjata dan opium. Selain itu, muncul karya budaya baru, seperti dalam seni musik jawa (gending Cinonagih) sebagai bentuk akulturasi etnis Jawa-dan Tionghoa, serta tradisi Dugderan dengan Warak Ngendok sebagai akulturasi
multietnis di kota pelabuhan Semarang.

Item Type: Book
Subjects: Pendidikan > Kebudayaan
Pendidikan > Kebudayaan > Nilai Budaya
Pendidikan > Kebudayaan > Penelitian Kebudayaan
Divisions: Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi > Sekretariat Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi > Balai Pelestarian Kebudayaan > Balai Pelestarian Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Depositing User: Administrator Repositori Kemenbud
Date Deposited: 14 Apr 2026 05:43
Last Modified: 15 Apr 2026 13:09
URI: https://repositori.kemenbud.go.id/id/eprint/4512

Actions (login required)

View Item
View Item