Membangun pemahaman multikulturalisme: Perspektif arkeologi

Monograph
Aris Tanudirjo, Daud (2011) Membangun pemahaman multikulturalisme: Perspektif arkeologi. Working Paper. Direktorat Jenderal Kebudayaan: BPNB D.I. Yogyakarta, Solo.

[thumbnail of Membangun_Pemahaman_Multikulturalisme.pdf]
Preview
Text
Membangun_Pemahaman_Multikulturalisme.pdf

Download (132kB) | Preview

Abstract

Bagaimana Arkeologi dapat membantu menjawab masalah multikulturalisme di
Indonesia ini ? Memang harus diakui, sesungguhnya tidak mudah bagi Arkeologi untuk menjawab
pertanyaan itu. Namun, sebagaimana dikemukakan Ashworth et als (2007), keberagaman budaya
(multikulturalisme) di Indonesia adalah akibat perjalanan panjang sejarahnya yang ditandai
dengan gelombang-gelombang migrasi dan difusi budaya ke wilayah Nusantara. Karena itu, untuk
menjawab masalah keberagaman budaya di Indonesia dibutuhkan pelacakan sejarah budaya di
kawasan ini. Di sinilah Arkeologi dapat memberikan sumbangan yang utama. Sebagaimana
dinyatakan oleh Hodder (1987), Arkeologi dapat berperan sebagai sejarah jangka panjang
(archaeology as long term history). Dengan kemampuannya meretas ke masa yang amat silam (remote past), arkeologi dapat mengungkapkan perubahan-perubahan yang berlangsung lama
dan bertahap, yang sulit dilacak oleh bidang ilmu lainnya. Meskipun Arkeologi lebih banyak
melakukan kajian pada budaya bendawi, seperangkat metode yang diterapkannya ternyata
mampu mengungkap fenomena multikulturalisme di masa lampau, di antaranya melalui analisis
terhadap kesamaan dan perbedaan benda dan atribut benda yang merupakan representasi dari
setiap budaya. Karena itu, arkeologi akan memilah-milahkan data yang dikajinya sehingga
diperoleh pola pengelompokan yang bersifat politetik . Artinya, jika beberapa himpunan yang
berisi artefak dengan atribut tertentu saling dibandingkan, maka akan terlihat beberapa ciri yang
sama sementara beberapa ciri lainnya hanya terdapat pada himpunan tertentu (Clarke, 1968;
Osborn, 1989). Hal ini setidaknya menyiratkan ada unsur-unsur budaya tertentu yang dimiliki
bersama, sedangkan unsur-unsur khas yang menjadi identitas khusus budaya itu tetap
dipertahankan dan tidak lebur.
Selain itu, berdasarkan kajian arkeologis terhadap agama-agama besar di dunia, Insoll
(2001) berani menyatakan salah satu peran penting arkeologi adalah kemampuannya
memberikan sumbangan bagi pemahaman perkembangan agama dan kepercayaan, antara lain
berkaitan dengan sinkretisme, co-existence, adaptasi, dan tradisi keagamaan yang populer dalam
suatu masyarakat. Agama merupakan salah satu unsur pembeda yang cukup rawan dalam
masyarakat multikultural (Stanford Encylopedia of Philosophy, 2010), sehingga amat perlu untuk
dipelajari dalam pemahami multikulturalisme.

Item Type: Monograph (Working Paper)
Subjects: Pendidikan > Kebudayaan
Pendidikan > Kebudayaan > Penelitian Kebudayaan
Divisions: Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi > Sekretariat Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi > Balai Pelestarian Kebudayaan > Balai Pelestarian Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Depositing User: Administrator Repositori Kemenbud
Date Deposited: 12 Apr 2026 05:21
Last Modified: 15 Apr 2026 13:06
URI: https://repositori.kemenbud.go.id/id/eprint/69

Actions (login required)

View Item
View Item